Wednesday, December 14, 2011
Hubungan Kualitas Lahan dan Karakteristik Lahan (bagian II)
Label:
Bahan Kasar,
Banjir,
Drainese,
Erosi Tanah,
Gambut,
Genangan,
Iklim,
Karakteristik Lahan,
Kemasaman tanah,
Kualitas Lahan,
Pemetaan Lahan,
Relief,
Survey,
Tekstur,
Topografi
Hubungan Kualitas Lahan dan Karakteristik Lahan (bagian I)
Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO, 1976). Hubungan antara kualitas dan karakteristik lahan evaluasi lahan menurut Djaenudin et al. (2003) dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Label:
Bahan Kasar,
Banjir,
Drainese,
Erosi Tanah,
Gambut,
Genangan,
Iklim,
Karakteristik Lahan,
Kemasaman tanah,
Kualitas Lahan,
Pemetaan Lahan,
Relief,
Survey,
Tekstur,
Topografi
Monday, December 5, 2011
Evaluasi Lahan
Pengertian Evaluasi Lahan
Pada umumnya survey tanah adalah bertujuan untuk mengevaluasi lahan dalam rangka untuk menyusun rencana penggunaan lahan dalam bentuk klasifikasi kesesuaian dan kemampuan lahan (potensi lahan). Evaluasi merupakan intepretasi dalam keadaan tata guna lahan saat ini, perubahannya serta dampaknya yang tidak mengacu pada suatu metode evaluasi atau klasifikasi. Klasifikasi menunjukkan tipe penggunaan yang sesuai dan jenis masukan yang diperlukan untuk produksi tanaman secara lestari.
Perubahan lahan pada dasarnya sangat erat kaitannya dengan nilai ekonomi, konsekwensi sosial serta dampaknya terhadap lingkungan. Dengan demikian maka melalui evaluasi lahan diharapkan dapat menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut.
Pada umumnya survey tanah adalah bertujuan untuk mengevaluasi lahan dalam rangka untuk menyusun rencana penggunaan lahan dalam bentuk klasifikasi kesesuaian dan kemampuan lahan (potensi lahan). Evaluasi merupakan intepretasi dalam keadaan tata guna lahan saat ini, perubahannya serta dampaknya yang tidak mengacu pada suatu metode evaluasi atau klasifikasi. Klasifikasi menunjukkan tipe penggunaan yang sesuai dan jenis masukan yang diperlukan untuk produksi tanaman secara lestari.
Perubahan lahan pada dasarnya sangat erat kaitannya dengan nilai ekonomi, konsekwensi sosial serta dampaknya terhadap lingkungan. Dengan demikian maka melalui evaluasi lahan diharapkan dapat menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut.
- Bagaimana cara pengelolaan lahan saat ini dan dampaknya jika keadaan tersebut tidak mengalami perubahan atau tidak di ubah;
- Perbaikan apa yang diperlukan serta apakah dapat dilaksanakan sejalan dengan tata guna lahan saat ini;
- Apakah ada penggunaan lahan lain yang secara yang secara fisik dapat dilaksanakan serta sesuai dengan keadaan sosial dan bernilai ekonomis;
- Penggunaan lahan yang bagaimana yang lebih mempertahankan produksi atau manfaat lainnya;
- Sejauh mana pengaruh negatif dari tiap kemungkinan penggunaan lahan, baik dalam bentuk fisik, ekonomi maupun sosial;
- Apa masukan yang harus diberikan untuk memenuhi produksi serta menekan dampak negatif yang mungkin terjadi;
- Apa kelebihan manfaat masing-masing penggunaan lahan;
- Perubahan apa yang perlu dan mungkin dilaksanakan serta caranya;
- Apa penambahan masukan yang perlu dilaksanakan untuk terlaksananya perubahan tersebut.
Tuesday, September 27, 2011
Sistem Klasifikasi Kemampuan Lahan Menurut USDA (bagian 1)
Klasifikasi
kemampuan lahan adalah klasifikasi lahan yang dilakukan dengan metode
faktor penghambat. Dengan metode ini setiap kualitas lahan atau
sifat-sifat lahan diurutkan dari yang terbaik sampai yang terburuk atau
dari yang paling kecil hambatan atau ancamanya sampai yang terbesar.
Kemudian disusun tabel kriteria untuk setiap kelas; penghambat yang
terkecil untukkelas yang terbaik dan berurutan semakin besar hambatan
semakin rendah kelasnya. Pengelompokan di dalam kelas didasarkan atas
intensitas faktor penghambat, sehingga kelas kemampuan adalah kelompok
unit lahan yang memiliki tingkat pembatas atau penghambat (degree of limitation) yang sama jika digunakan untuk pertanian yang umum (Sys et al.,
1991). Tanah dikelompokan dalam delapan kelas yang ditandai dengan
huruf Romawi dari I sampai VIII. Kelas I hingga kelas IV merupakan kelas
yang dapat ditanami, sedangkan kelas V hingga kelas VIII merupakan
kelas yang tidak dapat ditanami.
Sistem Klasifikasi Kemampuan Lahan Menurut USDA (bagian 2)
Kelas III
Dibandingkan
dengan kelas II, tanah pada lahan kelas III ini memiliki faktor
penghambat lebih besar, jika akan dimanfaatkan untuk tanaman pertanian
memerlukan tindakan pengawetan khusus yang umumnya lebih sulit baik
dalam pelaksanaan maupun pemeliharaannya. Faktor-faktor penghambat pada
lahan kelas III antara lain; lereng agak miring atau sangat peka
terhadap bahaya erosi, kondisi drainase buruk, permeabilitas tanah
sangat lambat, solum dangkal yang membatasi daerah perakaran, kapasitas
menahan air rendah, serta kesuburan yang rendah dan tidak mudah untuk
diperbaiki. Jika lahan ini akan dimanfaatkan maka memerlukan tindakan
pengawetan khusus diantaranya perbaikan drainase, melakukan sistem
pertanaman seperti penanaman dalam jalur atau bergilir dengan tanaman
penutup tanah, pembuatan teras, selain itu diperlukan pemupukan dan
penambahan bahan organik untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Thursday, September 22, 2011
Fungsi Tanah Dalam Pencemaran Lingkungan
Dalam
kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari limbah atau buangan dan
sampah yang dihasilkan baik berupa limbah domestik rumahtangga maupun
limbah industri. Limbah dapat didefinisikan sebagai hasil dari suatu
proses yang memiliki nilai komersial rendah atau hasil yang tidak
bermanfaat. Sampah merupakan bahan yang dibuang setelah dimanfaatkan,
oleh karena itu perlu diperhatikan perbedaan antara limbah dan sampah.
Baik limbah maupun sampah merupakan bahan atau zat pencemar yang
bersifat pengotor terhadap lingkungan. Hal ini karena zat pencemar
tersebut bersifat racun baik bagi tumbuhan, hewan, maupun manusia.
Selain itu sampah dan limbah dapat menimbulkan bau yang tidak sedap,
menyebabkan eutrofikasi perairan, dapat meningkatkan temperatur perairan
yang dapat menimbulkan permasalahan terhadap biota yang terdapat
diperairan tersebut.
Label:
fungsi tanah,
pencemaran lingkungan,
pengalihragaman,
pengendali biologi,
penyangga,
penyaring
Wednesday, September 14, 2011
Parameter Penentu Kesuburan, Produktivitas, Kemampuan Serta Kesesuaian Tanah
Kesuburan
Tanah
Parameter yang digunakan
untuk menentukan kesuburan tanah adalah; jeluk efektif, struktur, konsistensi, internal drainage, daya simpan lengas,
kadar hara (N, P, K, S, Ca, dan Mg), KPK, cadangan mineral terlapukan, pH,
kadar bahan organik, sifat bahan organik, kejenuhan basa, serta kandungan zat
beracun (kejenuhan Al, Mn)
Introduksi Spesies
Introduksi spesies adalah
masuknya atau berpindahnya suatu jenis spesies dari habitatnya di suatu tempat
ke tempat lainnya baik dilakukan secara sengaja maupun secara tidak sengaja.
Introduksi spesies ini bisa berakibat positif maupun negatif terhadap daerah
yang baru dimasuki oleh spesies baru tersebut. Spesies-spesies yang dapat
berpindah pada suatu tempat ke tempat lainnya pada umumnya memiliki daya
adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga spesies ini mampu
bertahan bahkan berkembang biak dengan baik pada lingkungannya yang baru. Ada
beberapa spesies yang justru perkembangannya menjadi tak terkendali sehingga
menjadi hama dan merugikan manuasia.
Introduksi
spesies yang tidak disengaja
Spesies yang satu ini kita pastinya
sudah mengetahuinya bahkan persebarannya hampir merata dan dapat beradaptasi
dengan baik terhadap lingkungan barunya. Tikus merupakan spesies jenis omnivora
yang berasal dari daerah Norwegia sehingga namanya “Rathus Norvegicus”. Spesies
tikus ini mengikuti manusia dan terbawa dalam kapal-kapal yang berlayar dari
Norwegia ke berbagai penjuru wilayah di dunia. Tikus merupakan salah satu
binatang yang paling pesat perkembangannya karena sifat reproduksinya sangat
tinggi serta sangat adaptatif terhadap lingkungannya. Karena tikus merupakan
jenis hewan omnivora serta perkembangannya tak terkendali yang salah satu penyebabkan
rusaknya bahan pangan manusia sejak ribuan tahun yang lalu, sekaligus menjadi
salah satu hama yang menjadi musuh manusia di berbagai negara. Di negara
Amerika Serikat kerugian ayang diakibatkan oleh tikus ini terhitung mencapai
$2,5 milyar/thn.
Subscribe to:
Posts (Atom)


