Showing posts with label lingkungan. Show all posts
Showing posts with label lingkungan. Show all posts

Monday, September 12, 2011

Jenis-jenis Tanah di Indonesia (bagian 2)

Tanah Lateritik

Tanah Lateritik banyak tersebar di daerah yang beriklim humid dari tropis hingga subtropis. Beberapa ciri umum morfologi lateritik adalah sebagai berikut; (1) solum dangkal dengan kedalaman < 100 cm, (2) susunan horison A, B, dan C, dengan horison B spesifik berwarna merah kuning sampai kuning coklat dan bertekstur paling halus adalah lempung, (3) mengandung konkresi Fe/Mn lapisan kwarsa yang menyebabkan adanya air. Tanah jenis ini tersebar pada dataran rendah dengan ketinggian 100 m dpal, serta memiliki relief datar hingga sedikit bergelombang dengan bahan induk andesit dankKeadaan iklim basah dengan curah hujan antara 2500-3500 mm/thn tanpa bulan kering.

Saturday, September 10, 2011

Jenis-jenis Tanah di Indonesia (bagian 1)

Indonesia berada pada iklim tropis dengan temperatur dan kelembaban yang tinggi serta curah hujan yang tinggi merupakan faktor yang mempercepat proses pelapukan bahan induk, pencucian, pelindian, erosi serta deposisi. Selain itu topografi, aktivitas gunungapi, serta aktivitas manusia juga merupakan faktor yang menyebabkan pedogenesis tanah dapat terhambat. Adapun jenis dan karakteristik tanah yang ada di Indonesia antara lain sebagai berikut.

Tanah Organik

Tanah organik merupakan tanah yang telah terendam air dalam waktu yang lama atau setidaknya selama 1 bulan dan mengandung bahan karbon organik > 12% jika berlempung atau mengandung bahan karbon organik > 18% jika berlempung 60% dan lempung tersebut berimbang dan proposional. Tanah organik dapat digolongkan kedalam Histosol jika lebih dari 50% lapisan atas tanah dalam memiliki ketebalan 40 – 80 cm. Bahan penyusun tanah organik dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu;
  1. Fibrik yang dekomposisinya paling sedikit, sehingga masih banyak mengandung serabut, BJ rendah (< 0,1), kadar air tinggi dan berwarna coklat;
  2. Hemik merupakan peralihan dengan dekomposisi separuhnya, masih banyak mengandung serabut dengan BJ 0,07 – 0,18, dengan kadar air tinggi serta berwarna lebih kelam;
  3. Saprik merupakan dekomposisinya paling lanjut, kurang mengandung serabut, BJ > 0,2 atau lebih, kadar air tidak terlalu tinggi dengan warna hitam dan coklat kelam;

Thursday, August 18, 2011

Permasalahan Perkembangan Daerah Perdesaan Menjadi Perkotaan





Daerah perdesaan dapat didefinisikan sebagai daerah yang memiliki kepadatan penduduk rendah dengan kriteria ekonomi, sosial, dan geografis tertentu. Kriteria ekonomi pedesaan sangat tergantung atau mengandalkan dari pendapatan pertanian. Kriteria sosial, menunjukkan prilaku kehidupan masyarakat yang sangat terkait dengan pertanian dan kepadatan penduduk yang rendah. Kriteria geografis, daerah perdesaan lokasinya relatif jauh dari daerah perkotaan.

Tuesday, August 2, 2011

Permasalahan Lingkungan Global


Permasalahan lingkungan merupakan permaslahan yang sangat kompleks yang melibatkan banyak aspek dan bersifat global (tidak mengenal batas wilayah). Hampir seluruh negara di dunia mengalami permasalahan lingkungan yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh negara tersebut, tetapi memerlukan kerjasama dan komitmen bersama dengan negara-negara lain. Beberapa permasalahan lingkungan global yang menjadi masih terjadi dan membutuhkan perhatian adalah antara lain; (1) pertumbuhan penduduk dan gejolak ekonomi; (2) limbah bahan beracun berbahaya (B3); (3) penyebaran pencemaran lingkungan dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang yang disebabkan oleh gerakan ekologi dangkal (Shallow Ecology Movement); (4) penyebaran dampak lokal ke global karena pencemaran tidak mengenal batas daerah (pollution knows no nation boundary).

Monday, August 1, 2011

Bioindikator Lingkungan

Bioindikator merupakan indikator biotis yang dapat menunjukkan waktu dan lokasi, kondisi alam (bencana alam), serta perubahan kualitas lingkungan yang telah terjadi karena aktifitas manusia.

Bioindikator petunjuk waktu dan lokasi atau endemi; bioindikator dapat menunjukkan endemi dari suatu jenis tumbuhan atau hewan. Untuk lebih jelasnya dapat memperhatikan contoh pada bunga Raflesia Arnoldi, bunga Raflesia Arnoldi akan banyak diketemukan atau tumbuh pada sepanjanng jalur migrasi babi. Raflesia Arnoldi merupakan jenis tumbuhan yang tidak memiliki akar, sehingga untuk dapat tumbuh dan berkembang Raflesia Arnoldi akan menyerap makanan/nutrisi dari tumbuhan lain yang ada disekitarnya. Saat bermigrasi babi akan memakan tumbuhan terutama umbi-umbian yang ditemuinya selama dalam perjalanan dengan cara mencabut tumbuhan tersebut hingga ke akar atau umbinya. Raflesia Arnoldi akan tumbuh dengan cara menyerap makanan/nutrisi dari sisa-sisa akar/umbi dari tumbuhan yang telah dimakan babi. Hal ini menunjukkan bahwa lokasi atau endemi Raflesia Arnoldi banyak diketemukan di sepanjang jalur migrasi babi. Contoh lain adalah pada ikan Salmon, pada saat musim kawin dan bertelur maka ikan Salmon akan bermigrasi menuju hulu sungai, atau disebut juga dengan istilah Anadromus. Setelah menetas maka ikan-ikan Salmon ini akan kembali menuju ke hilir sungai atau ke laut. Hal ini juga terjadi pada belut raksasa Sidat yang melakukan migrasi ke hilir sungai atau laut untuk kawin dan bertelur, hal ini disebut juga dengan istilah Katadromus.

Sunday, July 31, 2011

Apa Pengelolaan Lingkungan itu ?



Pengelolaan Lingkungan adalah satu proses intervensi publik yang sistematis dan menerus dalam pengalokasian dan pemanfaatan lingkungan dan sumber daya alam untuk memecahkan persoalan-persoalan lingkungan saat ini dan untuk menuju pembangunan yang berkelanjutan, (Setiawan, 2000). Pengelolaan lingkungan timbul akibat dari merebaknya isu-isu tentang terjadinya kerusakan lingkungan global. Dimana telah terjadi degradasi kualitas lingkungan akibat dari pola konsumsi dan produksi serta eksploitasi yang tidak mempertimbangkan sumberdaya alam.

Adapun hakekat dari pengelolaan lingkungan adalah usaha untuk memelihara/memperbaiki mutu lingkungan agar kebutuhan dasar kita terpenuhi, (Soemarwoto, 1985). Hakekat tersebut mengandung makna yang luas yaitu, untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dengan memperhatikan kualitas hidup manusia secara keseluruhan. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya penggunaan teknologi yang arif lingkungan serta memperhatikan kondisi sosial dan politik masyarakat untuk menghilangkan ketimpangan akibat proses pembangunan tersebut. Banyak permasalahan-permasalahan sosial yang timbul akibat dari pembangunan yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan, sosial dan politik yang berkembang di masyarakat. Padahal pembangunan tersebut adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, jika yang terjadi sebaliknya berarti telah terjadi kesalahan dalam menelaah hakekat dari pembangunan tersebut yang berarti juga pemerintah tidak menjalankan UU No.23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Pembangunan tidak akan berhasil tanpa andil dan kerjasama dari masyarakat, sebab yang menjadi obyek dan sasaran pembangunan adalah masyarakat itu sendiri.

Tuesday, June 28, 2011

Radioaktifitas Alam di Lereng Gunungapi Merapi (Bagian 2)

(penulis : Erfan Taufik Ardianto)


Radioaktifitas Alam di Lereng Gunungapi Merapi

Pembentukan Gunungapi Merapi terbagi dalam 5 tahap, yaitu pra Merapi (>400.000 tahun yang lalu), Merapi tua berumur antara 400.000 sampai 6.700 tahun yang lalu, kemudian tahap ketiga adalah Merapi menengah antara 6.700–2.200 tahun yang lalu, Merapi muda 2.200–600 tahun yang lalu dan Merapi Sekarang sejak 600 tahun lalu. Pemetaan geologi Gunungapi Merapi dalam Tahun 1989 menyebutkan hanya dua waktu, yaitu batuan Gunungapi Merapi muda dan Merapi tua. Batuan Gunungapi Merapi Muda terdiri dari aliran lava andesit piroksen, endapan jatuhan piroklastika Merapi, endapan aliran piroklastika muda dan guguran Merapi, dan endapan lahar muda. Sedangkan batuan Merapi tua terdiri dari endapan aliran piroklastika tua Merapi, endapan lahar tua Merapi, dan aliran lava andesit piroksen (Wirakusumah A.D., 1989).
Batuan Gunungapi Merapi yang telah dianalisa, diperoleh kesimpulan bahwa kandungan silika dari lava dan piroklastik sedikit berbeda. Kandungan silika dari lava antara 48,84–55,71 % sedangkan untuk piroklastik antara 49,17–58,96 %. Lava berjenis andesit-basaltik dengan komposisi plagioklas, klinopiroxin, magnetit, olivin, orthopiroxin, dan ampibol (Wirakusumah A.D.,1989). Hampir semua lava berbentuk kristal yang sempurna (porfiritik) (Marmol, M.D., 1998).
Hasil analisa terhadap batuan vulkanik dari Gunungapi Merapi hasil letusan Tahun 1997 pernah dilakukan BPPTK, analisa selengkapnya dari batuan vulkanik Gunungapi Merapi koleksi 1997 (dua sample) disajikan pada Tabel 4. sebagai berikut.

KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN MAKROZOOBENTOS

(penulis: Budi Nugroho & Erfan Taufik Ardianto)



Pendahuluan

Keanekaragaman hayati merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui secara terbatas. Potensi sumber daya alam hayati tersebut bervariasi, tergantung dari letak suatu kawasan dan kondisinya. Pengertian istilah sumberdaya alam hayati cukup luas, yakni mencakup sumber daya alam hayati, tumbuhan, hewan, bentang alam (landscape) dan sosial budaya. Indonesia memiliki keanekaragaman sumberdaya alam hayati yang berlimpah ruah sehingga dikenal sebagai negara megabiodiversity. Meskipun luas arealnya hanya mencakup 1,3% dari seluruh luas permukaan bumi, namun kekayaan jenis makhluk hidupnya mencapai 17% dari seluruh total jenis yang ada di dunia. Dari sekian besar kekayaan jenis di Indonesia, baru sebagian kecil yang telah benar – benar dipelajari dan dipahami oleh manusia.
Keanekaragaman hayati didefinisikan sebagai keanekaragaman makhluk dan hal – hal yang berhubungan dengan lingkungan makhluk tersebut . Keanekaragaman hayati mencakup tiga tingkatan yaitu :
  1. Keanekaragaman genetik, merupakan keanekaragaman yang paling hakiki, karena keanekaragaman ini dapat berlanjut dan bersifat diturunkan. Keanekaragaman genetik ini berhubungan dengan keistimewaan ekologi dan proses evolusi.
  2. Keanekaragaman jenis, meliputi flora dan fauna. Beranekaragam jenis memiliki perilaku, strategi hidup, bentuk, rantai makanan, ruang dan juga ketergantungan antara jenis satu dengan yang lainnya. Adanya keanekaragaman yang tinggi akan menghasilkan kestabilan lingkungan yang mantap.