Hidrotopografi
mencerminkan kaitan antara topografi gambut dengan permukaan air tanah.
Pada kawasan gambut yang mempunyai kubah, semakin ke pusat kubah
permukaan air tanah semakin dalam. Dengan demikian apabila dibuat
saluran drainase di kawasan kubah, maka air cenderung akan keluar dari
kawasan tersebut. Akibat selanjutannya adalah berkurang atau hilangnya
kemampuan untuk menahan intrusi air laut. Pada kawasan gambut yang
tidak mempunyai kubah, air tanah selalu menggenang pada saat musim hujan
atau saat fluktuasi air naik (contohnya kasus Rawa Lebak). Pada kawasan
ini air tanah lebih sulit diatur kecuali dibuat penahan. Variasi
kondisi ini diikuti juga oleh perbedaan kualitas air tanah dan kesuburan
tanah gambut itu sendiri.
Showing posts with label tanah. Show all posts
Showing posts with label tanah. Show all posts
Tuesday, January 1, 2013
Friday, December 28, 2012
Ekosistem Gambut (Bagian 1)
Pengertian Ekosistem Gambut
Gambut
adalah tanah yang mengandung bahan organik lebih dari 30 persen,
sedangkan lahan gambut adalah lahan yang ketebalan gambutnya lebih dari
50 centimeter. Lahan yang ketebalan gambutnya kurang daripada 50
centimeter disebut lahan bergambut. Gambut terbentuk dari hasil
dekomposisi bahan-bahan organik seperti dedaunan, ranting serta semak
belukar yang berlangsung dalam kecepatan yang lambat dan dalam keadaan
anaerob.
Lahan
gambut dapat menempati cekungan, depresi, atau bagian-bagian terendah
di pelembahan, dan penyebarannya di dataran rendah sampai dataran
tinggi. Selain itu lahan gambut juga terbentuk di daerah rawa, yang
umumnya merupakan posisi peralihan di antara ekosistem daratan dan
ekosistem perairan. Sepanjang tahun atau dalam jangka waktu yang panjang
dalam setahun, lahan ini selalu jenuh air (waterlogged) atau tergenang
air.
Tuesday, February 14, 2012
Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah (NSASD)
Latar Belakang
Sumberdaya alam merupakan salah satu modal yang perlu dikembangkan dan dioptimalkan untuk menunjang pengembangan suatu wilayah. Namun, pemanfaatan sumber daya alam tersebut harus memperhatikan konservasi dan upaya untuk kelestarian fungsi ekosistemnya. Untuk mendukung keberhasilan usaha tersebut, perlu diketahui lokasi keterdapatannya dengan pasti potensi dan kondisi sumber daya yang ada di suatu wilayah, sehingga dapat dibuat perencanaan yang tepat dalam pengembangan wilayah tersebut.
Salah satu alternatif caranya yaitu melalui penyusunan neraca sumber daya alam. Neraca sumber daya alam disepakati dalam empat komponen sumber daya alam yaitu sumber daya lahan, hutan, air, dan sumber daya mineral. Dalam Neraca sumber daya alam terdapat informasi mengenai besarnya sumber daya/cadangan setiap jenis mineral, jumlah mineral-mineral yang telah dimanfaatkan dan cadangan yang masih tersisa (saldo) serta besarnya pembiayaan pemulihan lingkungan di dalam pelaksanaan eksploitasi (pemanfaatannya), yang kesemuanya dapat dikonversikan dalam nilai rupiah sesuai harga terbaru yang berlaku dari waktu ke waktu sesuai dengan tahun anggaran (APBD) kabupaten. Selain informasi tersebut, hal yang penting lainnya adalah adanya informasi spasial atas persebaran lokasi sumber daya alam tersebut di suatu wilayah. Dengan demikian, neraca sumber daya alam yang disusun juga bersifat spasial/keruangan.
Label:
air,
bentuk lahan,
hutan,
jasa konsultan,
Mineral,
Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah,
tanah
Monday, September 12, 2011
Jenis-jenis Tanah di Indonesia (bagian 2)
Tanah Lateritik
Tanah
Lateritik banyak tersebar di daerah yang beriklim humid dari tropis
hingga subtropis. Beberapa ciri umum morfologi lateritik adalah sebagai
berikut; (1) solum dangkal dengan kedalaman < 100 cm, (2) susunan
horison A, B, dan C, dengan horison B spesifik berwarna merah kuning
sampai kuning coklat dan bertekstur paling halus adalah lempung, (3)
mengandung konkresi Fe/Mn lapisan kwarsa yang menyebabkan adanya air.
Tanah jenis ini tersebar pada dataran rendah dengan ketinggian 100 m
dpal, serta memiliki relief datar hingga sedikit bergelombang dengan
bahan induk andesit dankKeadaan iklim basah dengan curah hujan antara
2500-3500 mm/thn tanpa bulan kering.
Label:
Aluvial,
Fibrik,
hemik,
horison,
Indonesia,
Jenis-jenis,
Latosol,
lingkungan,
Litosol,
Mediteran Merah Kuning,
Pasiran,
saprik,
tanah,
Tanah Merah,
Tanah Mineral,
Tanah Organik
Saturday, September 10, 2011
Jenis-jenis Tanah di Indonesia (bagian 1)
Indonesia
berada pada iklim tropis dengan temperatur dan kelembaban yang tinggi
serta curah hujan yang tinggi merupakan faktor yang mempercepat proses
pelapukan bahan induk, pencucian, pelindian, erosi serta deposisi.
Selain itu topografi, aktivitas gunungapi, serta aktivitas manusia juga
merupakan faktor yang menyebabkan pedogenesis tanah dapat terhambat.
Adapun jenis dan karakteristik tanah yang ada di Indonesia antara lain
sebagai berikut.
Tanah Organik
Tanah
organik merupakan tanah yang telah terendam air dalam waktu yang lama
atau setidaknya selama 1 bulan dan mengandung bahan karbon organik >
12% jika berlempung atau mengandung bahan karbon organik > 18% jika
berlempung 60% dan lempung tersebut berimbang dan proposional. Tanah
organik dapat digolongkan kedalam Histosol jika lebih dari 50% lapisan
atas tanah dalam memiliki ketebalan 40 – 80 cm. Bahan penyusun tanah
organik dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu;
- Fibrik yang dekomposisinya paling sedikit, sehingga masih banyak mengandung serabut, BJ rendah (< 0,1), kadar air tinggi dan berwarna coklat;
- Hemik merupakan peralihan dengan dekomposisi separuhnya, masih banyak mengandung serabut dengan BJ 0,07 – 0,18, dengan kadar air tinggi serta berwarna lebih kelam;
- Saprik
merupakan dekomposisinya paling lanjut, kurang mengandung serabut, BJ
> 0,2 atau lebih, kadar air tidak terlalu tinggi dengan warna hitam
dan coklat kelam;
Label:
Aluvial,
Fibrik,
hemik,
horison,
Indonesia,
Jenis-jenis,
Latosol,
lingkungan,
Litosol,
Mediteran Merah Kuning,
Pasiran,
saprik,
tanah,
Tanah Merah,
Tanah Mineral,
Tanah Organik
Wednesday, July 20, 2011
Pupuk Kompos Mengurangi Pemanasan Global
Ilmuwan ilmu tanah Universitas Ohio Rotan Lal mengatakan menyatakan bahwa tanah pertanian memiliki potensi untuk menyerap 13% karbon dioksida di atmosfer. Para peneliti di seluruh dunia berusaha mencari bukti bahwa perubahan pada lahan pertanian dan peternakan dapat berdampak besar terhadap penyerapan karbon.
Tanah terbuka tanpa vegetasi yang tumbuh diatasnya mengakibatkan karbon yang ada dalam tanah akan terangkat ke atmosfer. Hal ini mengakibatkan tanah menjadi kering dan keras serta rentan terjadi erosi baik oleh air maupun angin. Selain itu karbon yang naik ke udara akan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Sekarang ini perubahan penggunaan lahan telah memberikan kontribusi 1/3 dari emisi gas karbon yang mengakibatkan pemanasan global. Rotan Lal menyatakan bahwa perubahan penggunaan lahan telah mengakibatkan 70 milyar ton dari 100 milyar ton karbon yang ada di dalam tanah naik ke atmosfer.
Label:
Global,
Kompos,
kriteria kesesuaian lahan,
Pemanasan,
penggunaan,
Pupuk,
tanah
Tuesday, July 19, 2011
Tata Cara Budidaya Tanaman Tebu (Bagian 2: Tanam "Planting")
2. Tanam (Planting)
Tanam merupakan kegiatan yang dilakukan untuk replanting cane (RPC). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan tanam ini adalah menentukan varietas yang akan ditanam yaitu varietas yang tahan hama dan penyakit, memperhatikan bulan tanam, tebu RPC, berumur antara 6 - 8 bulan, murni (tidak tercampur varietas lain), daya kecambah tinggi, dan memiliki figur yang baik. Tebu yang ditanam berupa replanting cane (RPC) dan ratoon cane. Rencana replanting dilakukan dalam setiap musim tanam sebanyak ± ¼ (seperempat) dari luas total tanaman. Pembongkaran ratoon untuk rencana replanting didasari atas beberapa pertimbangan sebagai berikut: (1) produksi tebu per hektar; (2) keadaan hama dan penyakit; (3) keadaan gulma; dan (4) periode ratoon. Bulan tanam dan bulan tebang yang tepat perlu diperhatikan untuk memperoleh tingkat rendemen yang maksimal disesuaikan dengan varietas tebu yang tergolong masak awal, tengah, dan akhir.
Masa tanam bibit hendaknya disesuaikan dengan kategori umur kemasakannya sedemikian hingga masa tanaman baru (PC) tersedia bibit seperti kategori kemasakannya. Kategori kemasakan tebu terkait dengan lama tanaman tebu yang telah berumur fisiologi dewasa (lebih dari 9 bulan) mengalami kondisi lengas tanah rendah (kurang dari 50% kapasitas lapang) dan menunjukkan tingkat kecepatan masaknya, yaitu awal (Mei - Juni), tengah (Juli -Agustus) dan lambat (setelah September). Sedangkan umur tebu dipanen menentukan hasil tebu yang diperoleh. Tebu yang sama masak awal ditanam pada bulan Mei dan bulan Agustus akan siap ditebang pada bulan Mei-Juni dimana tanaman Mei telah berumur 12 - 13 bulan, sedang tanaman Agustus baru berumur 9 - 10 bulan. Tanaman tebu yang dipanen pada umur 12 - 13 bulan akan memberikan hasil tebu lebih tinggi dibandingkan tanaman yang dipanen pada umur 9 - 10 bulan. Oleh karena itu perencanaan tanam suatu varietas harus selalu disesuaikan dengan rencana tebang yang mengacu kepada kategori kemasakannya sehingga diperoleh hasil tebu dan tingkat rendemen yang tinggi.
Label:
planting,
tanah,
Tanaman,
Tata Cara Budidaya,
tebu
Tata Cara Budidaya Tanaman Tebu (Bagian 1: Mempersiapkan Lahan/Tanah "Land Preparation")
1. Mempersiapkan Lahan/Tanah (Land Preparation)
Kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan tanah agar dapat menjadi media yang baik sehingga menciptakan kondisi pertumbuhan tanaman tebu yang sehat dan normal. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan lahan (land preparation) adalah sebagai berikut.
Brushing merupakan kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk memotong tunggul dan sampah guna memudahkan pembajakan, dan meratakan tanah, serta mencacah sampah yang tidak terbakar. Kegiatan ini dilakukan pada areal tanaman ratoon yang akan dibongkar atau areal yang akan ditanami kembali (replanting cane). Indikator brushing yang baik adalah semua tunggul dan sampah terpotong sehingga tanah menjadi rata. Brushing dilakukan dengan menggunakan implement berupa piringan (disc) harrow Ku Lin atau Baldan yang ditarik oleh traktor medium 140 HP. Kapasitas kerja yang mampu dilakukan oleh alat ini yaitu 0,9 ha per jam. Tanah yang telah di-brushing dibiarkan selama 3 - 7 hari untuk mematikan biji-biji gulma.
Label:
Lahan,
Land,
Preparation,
tanah,
Tanaman,
Tata Cara Budidaya,
tebu
Peranan Mikrobia Dalam Tanah
Sebagai reaktor, tanah merupakan suatu sistem beragam, terdiri atas komponen (1) mineral, (2) organik, (3) air, dan (4) udara, Komponen mineral berupa sibir (fragment) batuan, mineral primer dan sekunder, serta bahan amorf. Komponen organik terdiri atas akar tumbuhan, flora dan fauna penghuni tanah (edafon), sisa jaringan tumbuhan utuh dan lapuk, serta bahan humik. Air mengandung berbagai zat terlarut dan tersuspensi. Udara tersusun atas uap air, gas-gas atmosfer, dan gas-gas hasil reaksi tanah. Bahan mineral dan organik membentuk kerangka padat tanah. Air dan udara berada dalam pori tanah, sebagian air terjerap di permukaan zarah padat tanah.
Perubahan unsur-unsur makro dalam tanah secara langsung akan mempengaruhi kesuburan dalam kaitannya sebagai media tanam. Perubahan unsur-unsur makro dalam tanah sangat dipengaruhi oleh mikrobia yang ada dalam tanah tersebut. Adapun peranan mikroba dalam kaitannya dengan dinamika unsur-unsur makro dalam tanah adalah sebagai berikut.
Tuesday, June 28, 2011
Pemetaan Kesuburan Tanah pada Lahan Tebu untuk Meningkatkan Produktivitas Tanaman Tebu dan Profit Perusahaan
(Penulis : Erfan Taufik Ardianto)
Tanah merupakan basis tumbuhnya tanaman, dan merupakan pendukung kehidupan hewan dan manusia yang berada di atasnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah dan banyak berkaitan dengan kesuburannya adalah: iklim, organisme (makhluk hidup), topografi, bahan induk atau batuan penyusun tanah, serta waktu.
Dalam penanaman tebu yang diharapkan adalah memperoleh hasil hablur yang tinggi. Hablur merupakan gula sukrosa yang telah dikristalkan. Dalam sistem produksi gula, pembentukan gula terjadi di dalam proses metabolisme tanaman. Proses ini terjadi di lapangan (on farm). Pabrik gula sebenarnya hanya berfungsi sebagai alat ekstraksi untuk mengeluarkan nira dari batang tebu dan mengolahnya menjadi gula kristal. Hablur yang dihasilkan mencerminkan dengan rendemen tebu. Dalam prosesnya ternyata rendemen yang dihasilkan oleh tanaman dipengaruhi oleh keadaan tanaman (produktivitas) dan proses penggilingan di pabrik.
Subscribe to:
Posts (Atom)

