Monday, December 5, 2011

Evaluasi Lahan

Pengertian Evaluasi Lahan

Pada umumnya survey tanah adalah bertujuan untuk mengevaluasi lahan dalam rangka untuk menyusun rencana penggunaan lahan dalam bentuk klasifikasi kesesuaian dan kemampuan lahan (potensi lahan). Evaluasi merupakan intepretasi dalam keadaan tata guna lahan saat ini, perubahannya serta dampaknya yang tidak mengacu pada suatu metode evaluasi atau klasifikasi. Klasifikasi menunjukkan tipe penggunaan yang sesuai dan jenis masukan yang diperlukan untuk produksi tanaman secara lestari.

Perubahan lahan pada dasarnya sangat erat kaitannya dengan nilai ekonomi, konsekwensi sosial serta dampaknya terhadap lingkungan. Dengan demikian maka melalui evaluasi lahan diharapkan dapat menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut.
  1. Bagaimana cara pengelolaan lahan saat ini dan dampaknya jika keadaan tersebut tidak mengalami perubahan atau tidak di ubah;
  2. Perbaikan apa yang diperlukan serta apakah dapat dilaksanakan sejalan dengan tata guna lahan saat ini;
  3. Apakah ada penggunaan lahan lain yang secara yang secara fisik dapat dilaksanakan serta sesuai dengan keadaan sosial dan bernilai ekonomis;
  4. Penggunaan lahan yang bagaimana yang lebih mempertahankan produksi atau manfaat lainnya;
  5. Sejauh mana pengaruh negatif dari tiap kemungkinan penggunaan lahan, baik dalam bentuk fisik, ekonomi maupun sosial;
  6. Apa masukan yang harus diberikan untuk memenuhi produksi serta menekan dampak negatif yang mungkin terjadi;
  7. Apa kelebihan manfaat masing-masing penggunaan lahan;
  8. Perubahan apa yang perlu dan mungkin dilaksanakan serta caranya;
  9. Apa penambahan masukan yang perlu dilaksanakan untuk terlaksananya perubahan tersebut.

Tuesday, September 27, 2011

Sistem Klasifikasi Kemampuan Lahan Menurut USDA (bagian 1)

Klasifikasi kemampuan lahan adalah klasifikasi lahan yang dilakukan dengan metode faktor penghambat. Dengan metode ini setiap kualitas lahan atau sifat-sifat lahan diurutkan dari yang terbaik sampai yang terburuk atau dari yang paling kecil hambatan atau ancamanya sampai yang terbesar. Kemudian disusun tabel kriteria untuk setiap kelas; penghambat yang terkecil untukkelas yang terbaik dan berurutan semakin besar hambatan semakin rendah kelasnya. Pengelompokan di dalam kelas didasarkan atas intensitas faktor penghambat, sehingga kelas kemampuan adalah kelompok unit lahan  yang memiliki tingkat pembatas atau penghambat (degree of limitation) yang sama jika digunakan untuk pertanian yang umum (Sys et al., 1991). Tanah dikelompokan dalam delapan kelas yang ditandai dengan huruf Romawi dari I sampai VIII. Kelas I hingga kelas IV merupakan kelas yang dapat ditanami, sedangkan kelas V hingga kelas VIII merupakan kelas yang tidak dapat ditanami.

Sistem Klasifikasi Kemampuan Lahan Menurut USDA (bagian 2)

Kelas III

Dibandingkan dengan kelas II, tanah pada lahan kelas III ini memiliki faktor penghambat lebih besar, jika akan dimanfaatkan untuk tanaman pertanian memerlukan tindakan pengawetan khusus yang umumnya lebih sulit baik dalam pelaksanaan maupun pemeliharaannya. Faktor-faktor penghambat pada lahan kelas III antara lain; lereng agak miring atau sangat peka terhadap bahaya erosi, kondisi drainase buruk, permeabilitas tanah sangat lambat, solum dangkal yang membatasi daerah perakaran, kapasitas menahan air rendah, serta kesuburan yang rendah dan tidak mudah untuk diperbaiki. Jika lahan ini akan dimanfaatkan maka memerlukan tindakan pengawetan khusus diantaranya perbaikan drainase, melakukan sistem pertanaman seperti penanaman dalam jalur atau bergilir dengan tanaman penutup tanah, pembuatan teras, selain itu diperlukan pemupukan dan penambahan bahan organik untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Thursday, September 22, 2011

Fungsi Tanah Dalam Pencemaran Lingkungan


 

Dalam kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari limbah atau buangan dan sampah  yang dihasilkan baik berupa limbah domestik rumahtangga maupun limbah industri. Limbah dapat didefinisikan sebagai hasil dari suatu proses yang memiliki nilai komersial rendah atau hasil yang tidak bermanfaat. Sampah merupakan bahan yang dibuang setelah dimanfaatkan, oleh karena itu perlu diperhatikan perbedaan antara limbah dan sampah. Baik limbah maupun sampah merupakan bahan atau zat pencemar yang bersifat pengotor terhadap lingkungan. Hal ini karena zat pencemar tersebut bersifat racun baik bagi tumbuhan, hewan, maupun manusia. Selain itu sampah dan limbah dapat menimbulkan bau yang tidak sedap, menyebabkan eutrofikasi perairan, dapat meningkatkan temperatur perairan yang dapat menimbulkan permasalahan terhadap biota yang terdapat diperairan tersebut.

Wednesday, September 14, 2011

Parameter Penentu Kesuburan, Produktivitas, Kemampuan Serta Kesesuaian Tanah

Kesuburan Tanah

Parameter yang digunakan untuk menentukan kesuburan tanah adalah; jeluk efektif, struktur, konsistensi, internal drainage, daya simpan lengas, kadar hara (N, P, K, S, Ca, dan Mg), KPK, cadangan mineral terlapukan, pH, kadar bahan organik, sifat bahan organik, kejenuhan basa, serta kandungan zat beracun (kejenuhan Al, Mn)

Introduksi Spesies

Introduksi spesies adalah masuknya atau berpindahnya suatu jenis spesies dari habitatnya di suatu tempat ke tempat lainnya baik dilakukan secara sengaja maupun secara tidak sengaja. Introduksi spesies ini bisa berakibat positif maupun negatif terhadap daerah yang baru dimasuki oleh spesies baru tersebut. Spesies-spesies yang dapat berpindah pada suatu tempat ke tempat lainnya pada umumnya memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga spesies ini mampu bertahan bahkan berkembang biak dengan baik pada lingkungannya yang baru. Ada beberapa spesies yang justru perkembangannya menjadi tak terkendali sehingga menjadi hama dan merugikan manuasia.

Introduksi spesies yang tidak disengaja

Spesies yang satu ini kita pastinya sudah mengetahuinya bahkan persebarannya hampir merata dan dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan barunya. Tikus merupakan spesies jenis omnivora yang berasal dari daerah Norwegia sehingga namanya “Rathus Norvegicus”. Spesies tikus ini mengikuti manusia dan terbawa dalam kapal-kapal yang berlayar dari Norwegia ke berbagai penjuru wilayah di dunia. Tikus merupakan salah satu binatang yang paling pesat perkembangannya karena sifat reproduksinya sangat tinggi serta sangat adaptatif terhadap lingkungannya. Karena tikus merupakan jenis hewan omnivora serta perkembangannya tak terkendali yang salah satu penyebabkan rusaknya bahan pangan manusia sejak ribuan tahun yang lalu, sekaligus menjadi salah satu hama yang menjadi musuh manusia di berbagai negara. Di negara Amerika Serikat kerugian ayang diakibatkan oleh tikus ini terhitung mencapai $2,5 milyar/thn.

Monday, September 12, 2011

Jenis-jenis Tanah di Indonesia (bagian 2)

Tanah Lateritik

Tanah Lateritik banyak tersebar di daerah yang beriklim humid dari tropis hingga subtropis. Beberapa ciri umum morfologi lateritik adalah sebagai berikut; (1) solum dangkal dengan kedalaman < 100 cm, (2) susunan horison A, B, dan C, dengan horison B spesifik berwarna merah kuning sampai kuning coklat dan bertekstur paling halus adalah lempung, (3) mengandung konkresi Fe/Mn lapisan kwarsa yang menyebabkan adanya air. Tanah jenis ini tersebar pada dataran rendah dengan ketinggian 100 m dpal, serta memiliki relief datar hingga sedikit bergelombang dengan bahan induk andesit dankKeadaan iklim basah dengan curah hujan antara 2500-3500 mm/thn tanpa bulan kering.

Saturday, September 10, 2011

Jenis-jenis Tanah di Indonesia (bagian 1)

Indonesia berada pada iklim tropis dengan temperatur dan kelembaban yang tinggi serta curah hujan yang tinggi merupakan faktor yang mempercepat proses pelapukan bahan induk, pencucian, pelindian, erosi serta deposisi. Selain itu topografi, aktivitas gunungapi, serta aktivitas manusia juga merupakan faktor yang menyebabkan pedogenesis tanah dapat terhambat. Adapun jenis dan karakteristik tanah yang ada di Indonesia antara lain sebagai berikut.

Tanah Organik

Tanah organik merupakan tanah yang telah terendam air dalam waktu yang lama atau setidaknya selama 1 bulan dan mengandung bahan karbon organik > 12% jika berlempung atau mengandung bahan karbon organik > 18% jika berlempung 60% dan lempung tersebut berimbang dan proposional. Tanah organik dapat digolongkan kedalam Histosol jika lebih dari 50% lapisan atas tanah dalam memiliki ketebalan 40 – 80 cm. Bahan penyusun tanah organik dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu;
  1. Fibrik yang dekomposisinya paling sedikit, sehingga masih banyak mengandung serabut, BJ rendah (< 0,1), kadar air tinggi dan berwarna coklat;
  2. Hemik merupakan peralihan dengan dekomposisi separuhnya, masih banyak mengandung serabut dengan BJ 0,07 – 0,18, dengan kadar air tinggi serta berwarna lebih kelam;
  3. Saprik merupakan dekomposisinya paling lanjut, kurang mengandung serabut, BJ > 0,2 atau lebih, kadar air tidak terlalu tinggi dengan warna hitam dan coklat kelam;