Wednesday, November 13, 2013

Potensi Kerusakan Lahan (Bagian 1)



Berdasarkan UU no. 41/2009 lahan merupakan bagian daratan dari permukaan bumi sebagai suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah beserta segenap faktor yang mempengaruhi penggunaannya seperti iklim, relief, aspek geologi, dan hidrologi yang terbentuk secara alami maupun akibat pengaruh manusia.

Sedangkan definisi Kerusakan lahan menurut PERMEN RI No.4/2001 adalah perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang mengakibatkan lahan tidak lagi dapat berfungsi secara optimal dalam menunjang pembangunan berkelanjutan.

Menurut Pieri, dkk,. (1995), kerusakan lahan dapat disebabkan oleh: erosi air, erosi angin, penurunan kesuburan tanah, kehilangan bio-aktifitas tanah, penggaraman, water logging, penurunan muka air tanah, pencemaran tanah, deforestation, perusakan hutan, pengrusakan padang penggembalaan dan desertification. Selain itu kerusakan lahan juga dapat terjadi karena peristiwa alam (gempa, longsoran, perubahan iklim), perbuatan manusia atau penggabungan peristiwa alam dengan perbuatan manusia (Notohadinegoro, 1986).

Pendekatan penilaian kerusakan lahan berdasarkan SK MENLH No.43/MENLH/10/1996 disesuaikan dengan peruntukan lahan tersebut adalah sebagai berikut:

Tuesday, January 1, 2013

Ekosistem Gambut (Bagian 2)

Hidrotopografi


Hidrotopografi mencerminkan kaitan antara topografi gambut dengan permukaan air tanah. Pada kawasan gambut yang mempunyai kubah, semakin ke pusat kubah permukaan air tanah semakin dalam. Dengan demikian apabila dibuat saluran drainase di kawasan kubah, maka air cenderung akan keluar dari kawasan tersebut. Akibat selanjutannya adalah berkurang atau hilangnya kemampuan untuk menahan intrusi air laut.  Pada kawasan gambut yang tidak mempunyai kubah, air tanah selalu menggenang pada saat musim hujan atau saat fluktuasi air naik (contohnya kasus Rawa Lebak). Pada kawasan ini air tanah lebih sulit diatur kecuali dibuat penahan. Variasi kondisi ini diikuti juga oleh perbedaan kualitas air tanah dan kesuburan tanah gambut itu sendiri.

Friday, December 28, 2012

Ekosistem Gambut (Bagian 1)

Pengertian Ekosistem Gambut

Gambut adalah tanah yang mengandung bahan organik lebih dari 30 persen, sedangkan lahan gambut adalah lahan yang ketebalan gambutnya lebih dari 50 centimeter. Lahan yang ketebalan gambutnya kurang daripada 50 centimeter disebut lahan bergambut. Gambut terbentuk dari hasil dekomposisi bahan-bahan organik seperti dedaunan, ranting serta semak belukar yang berlangsung dalam kecepatan yang lambat dan dalam keadaan anaerob.

Lahan gambut dapat menempati cekungan, depresi, atau bagian-bagian terendah di pelembahan, dan penyebarannya di dataran rendah sampai dataran tinggi. Selain itu lahan gambut juga terbentuk di daerah rawa, yang umumnya merupakan posisi peralihan di antara ekosistem daratan dan ekosistem perairan. Sepanjang tahun atau dalam jangka waktu yang panjang dalam setahun, lahan ini selalu jenuh air (waterlogged) atau tergenang air.

Tuesday, May 8, 2012

Menampilkan Peta Pada Halaman Google Earth

Bagi anda terutama pengguna Google Earth pemula yang masih belum tahu bagaimana cara menampilkan peta (shp atau Map) tersebut agar dapat tampil pada Google Earth. Sebenarnya cara untuk menampilkan peta pada halaman Google Earth mudah tetapi bagi anda pemula tentunya masih merasa bingung, sehingga tidak ada salahnya artikel ini saya sajikan semoga bermanfaat bagi anda.

Ada beberapa cara untuk dapat mengkonversi file dalam bentuk shp maupun map agar dapat di tampilkan pada halaman Google Earth. Pada kesempatan ini saya akan menggunakan fasilitas pada program Global Mapper untuk mengkonversi file dalam bentuk shp menjadi file dalam bentuk KML atau KMZ yang dapat ditampilkan pada halaman Google Earth.

Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Friday, April 27, 2012

Metode Penyusunan Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah (NSASD) (bagian II)

Metoda Pengolahan dan Penyajian Data Sumberdaya Hutan

Pengolahan data potensi tegakan hutan untuk mendapatkan hubungan antara peubah langsung di potret udara (kerapatan tajuk, diameter tajuk, dan tinggi pohon) terhadap peubah tak langsung (volume tegakan) menggunakan software lotus, Minitab dan lain sebagainya untuk memperoleh suatu persamaan regresi. Peta-peta tersebut diatas, diplot pada peta dasar sehingga menghasilkan peta Aktiva dan peta Pasiva. Peta Aktiva dan Peta Pasiva kemudian dioverlaykan untuk menghasilkan Peta Neraca Sumberdaya Hutan. Peta Aktiva dan peta Pasiva yang dibuat secara manual kemudian didigitasi. Luas masing - masing berdasarkan fungsi hutan dan tipe hutan diperoleh dari hasil perhitungan peta digitasi.

Metode pengisian tabel

Pada pengisian tabel-tabel pada penyusunan neraca sumber daya hutan spasial, perubahan yang dicatat adalah perubahan data luas dan potensi sumber daya hutan yang mencakup:

Monday, April 23, 2012

Metode Penyusunan Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah (NSASD) (bagian I)

Metode Pengumpulan Data Sumberdaya Air
Untuk  menghitung  penggunaan  air  dapat  dilakukan  dengan  peta  penggunaan  lahan, jika data dan  peta  penggunaan  lahan  belum  tersedia  maka  peta  penggunaan  air dapat  dibuat langsung  berdasarkan   data   citra   satelit   atau   foto   udara   dengan pendekatan   teknik penginderaan jauh. Inventarisasi  sumber daya  air  dalam  rangka penyusunan  neraca  sumberdaya  air  spasial disini dilakukan  untuk  memperoleh  data sekunder  hasil  inventarisasi  oleh  instansi  terkait. Jenis data, asal  sumber serta pemakaiannya sebagai berikut:
Data air dan asalnya
  1. data curah;
  2. data Iklim (temperatur, kelembaban, kecepatan angin, lama penyinaran);
  3. data air hujan tampungan dari penampungan air hujan;
  4. data debit air sungai;
  5. data air tanah;
  6. data luas dan volume danau;
  7. data waduk.

Tuesday, February 14, 2012

Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah (NSASD)

Latar Belakang

Sumberdaya alam merupakan salah satu modal yang perlu dikembangkan dan dioptimalkan untuk menunjang pengembangan suatu wilayah. Namun, pemanfaatan sumber daya alam tersebut harus memperhatikan konservasi dan upaya untuk kelestarian fungsi ekosistemnya. Untuk mendukung keberhasilan usaha tersebut, perlu diketahui lokasi keterdapatannya dengan pasti potensi dan kondisi sumber daya yang ada di suatu wilayah, sehingga dapat dibuat perencanaan yang tepat dalam pengembangan wilayah tersebut.

Salah satu alternatif caranya yaitu melalui penyusunan neraca sumber daya alam. Neraca sumber daya alam disepakati dalam empat komponen sumber daya alam yaitu sumber daya lahan, hutan, air, dan sumber daya mineral. Dalam Neraca sumber daya alam terdapat informasi mengenai besarnya sumber daya/cadangan setiap jenis mineral, jumlah mineral-mineral yang telah dimanfaatkan dan cadangan yang masih tersisa (saldo) serta besarnya pembiayaan pemulihan lingkungan di dalam pelaksanaan eksploitasi (pemanfaatannya), yang kesemuanya dapat dikonversikan dalam nilai rupiah sesuai harga terbaru yang berlaku dari waktu ke waktu sesuai dengan tahun anggaran (APBD) kabupaten. Selain informasi tersebut, hal yang penting lainnya adalah adanya informasi spasial atas persebaran lokasi sumber daya alam tersebut di suatu wilayah. Dengan demikian, neraca sumber daya alam yang disusun juga bersifat spasial/keruangan.

Membuat Kontur dari SRTM Menggunakan Global Mapper

Bagi yang sudah lama expert dibidang Mapping tentunya tidak akan asing dan kesulitan lagi untuk membuat garis kontur, tetapi bagi pemula yang baru mencoba belajar pemetaan semoga tulisan ini berguna untuk menambah literatur anda. Kali ini saya akan menjelaskan cara membuat garis kontur dari data SRTM dengan menggunakan program global mapper. Sebelumnya yang harus diketahui, garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang memiliki ketinggian sama dipermukaan bumi. SRTM (shuttle radar topography mission) adalah sebuah satelit yang menghasilkan model elevasi digital untuk menghasilkan database bumi dalam bentuk topografi digital yang paling lengkap. Meskipun SRTM memiliki resolusi yang rendah sekitar 90 m tetapi masih banyak digunakan sebagai informasi untuk pekerjaan lapangan serta dimanfaatkan untuk membuat peta kontur dan lereng (slope). Hasil peta kontur maupun peta lereng dari pengolahan data SRTM maksimal berskala 1 : 90.000, dan lebih baik untuk skala 1 : 100.000 meskipun demikian banyak yang memperbesar skalanya dengan konsekwensi menurunkan kualitas hasil yang akan didapat.

Wednesday, December 14, 2011

Hubungan Kualitas Lahan dan Karakteristik Lahan (bagian II)

Bahan Kasar

Bahan kasar adalah prosentasi kerikil, kerakal atau batuan pada setiap lapisan tanah, yang dapat diklasifikasikan seperti pada tabel berikut ini.


Kedalaman Tanah

Klasifikasi kedalam tanah dapat dilihat pada tabel berikut ini


Hubungan Kualitas Lahan dan Karakteristik Lahan (bagian I)

Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO, 1976). Hubungan antara kualitas dan karakteristik lahan evaluasi lahan menurut Djaenudin et al. (2003) dapat dilihat pada tabel berikut ini.


Monday, December 5, 2011

Evaluasi Lahan

Pengertian Evaluasi Lahan

Pada umumnya survey tanah adalah bertujuan untuk mengevaluasi lahan dalam rangka untuk menyusun rencana penggunaan lahan dalam bentuk klasifikasi kesesuaian dan kemampuan lahan (potensi lahan). Evaluasi merupakan intepretasi dalam keadaan tata guna lahan saat ini, perubahannya serta dampaknya yang tidak mengacu pada suatu metode evaluasi atau klasifikasi. Klasifikasi menunjukkan tipe penggunaan yang sesuai dan jenis masukan yang diperlukan untuk produksi tanaman secara lestari.

Perubahan lahan pada dasarnya sangat erat kaitannya dengan nilai ekonomi, konsekwensi sosial serta dampaknya terhadap lingkungan. Dengan demikian maka melalui evaluasi lahan diharapkan dapat menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut.
  1. Bagaimana cara pengelolaan lahan saat ini dan dampaknya jika keadaan tersebut tidak mengalami perubahan atau tidak di ubah;
  2. Perbaikan apa yang diperlukan serta apakah dapat dilaksanakan sejalan dengan tata guna lahan saat ini;
  3. Apakah ada penggunaan lahan lain yang secara yang secara fisik dapat dilaksanakan serta sesuai dengan keadaan sosial dan bernilai ekonomis;
  4. Penggunaan lahan yang bagaimana yang lebih mempertahankan produksi atau manfaat lainnya;
  5. Sejauh mana pengaruh negatif dari tiap kemungkinan penggunaan lahan, baik dalam bentuk fisik, ekonomi maupun sosial;
  6. Apa masukan yang harus diberikan untuk memenuhi produksi serta menekan dampak negatif yang mungkin terjadi;
  7. Apa kelebihan manfaat masing-masing penggunaan lahan;
  8. Perubahan apa yang perlu dan mungkin dilaksanakan serta caranya;
  9. Apa penambahan masukan yang perlu dilaksanakan untuk terlaksananya perubahan tersebut.

Tuesday, September 27, 2011

Sistem Klasifikasi Kemampuan Lahan Menurut USDA (bagian 1)

Klasifikasi kemampuan lahan adalah klasifikasi lahan yang dilakukan dengan metode faktor penghambat. Dengan metode ini setiap kualitas lahan atau sifat-sifat lahan diurutkan dari yang terbaik sampai yang terburuk atau dari yang paling kecil hambatan atau ancamanya sampai yang terbesar. Kemudian disusun tabel kriteria untuk setiap kelas; penghambat yang terkecil untukkelas yang terbaik dan berurutan semakin besar hambatan semakin rendah kelasnya. Pengelompokan di dalam kelas didasarkan atas intensitas faktor penghambat, sehingga kelas kemampuan adalah kelompok unit lahan  yang memiliki tingkat pembatas atau penghambat (degree of limitation) yang sama jika digunakan untuk pertanian yang umum (Sys et al., 1991). Tanah dikelompokan dalam delapan kelas yang ditandai dengan huruf Romawi dari I sampai VIII. Kelas I hingga kelas IV merupakan kelas yang dapat ditanami, sedangkan kelas V hingga kelas VIII merupakan kelas yang tidak dapat ditanami.

Sistem Klasifikasi Kemampuan Lahan Menurut USDA (bagian 2)

Kelas III

Dibandingkan dengan kelas II, tanah pada lahan kelas III ini memiliki faktor penghambat lebih besar, jika akan dimanfaatkan untuk tanaman pertanian memerlukan tindakan pengawetan khusus yang umumnya lebih sulit baik dalam pelaksanaan maupun pemeliharaannya. Faktor-faktor penghambat pada lahan kelas III antara lain; lereng agak miring atau sangat peka terhadap bahaya erosi, kondisi drainase buruk, permeabilitas tanah sangat lambat, solum dangkal yang membatasi daerah perakaran, kapasitas menahan air rendah, serta kesuburan yang rendah dan tidak mudah untuk diperbaiki. Jika lahan ini akan dimanfaatkan maka memerlukan tindakan pengawetan khusus diantaranya perbaikan drainase, melakukan sistem pertanaman seperti penanaman dalam jalur atau bergilir dengan tanaman penutup tanah, pembuatan teras, selain itu diperlukan pemupukan dan penambahan bahan organik untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Thursday, September 22, 2011

Fungsi Tanah Dalam Pencemaran Lingkungan


 

Dalam kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari limbah atau buangan dan sampah  yang dihasilkan baik berupa limbah domestik rumahtangga maupun limbah industri. Limbah dapat didefinisikan sebagai hasil dari suatu proses yang memiliki nilai komersial rendah atau hasil yang tidak bermanfaat. Sampah merupakan bahan yang dibuang setelah dimanfaatkan, oleh karena itu perlu diperhatikan perbedaan antara limbah dan sampah. Baik limbah maupun sampah merupakan bahan atau zat pencemar yang bersifat pengotor terhadap lingkungan. Hal ini karena zat pencemar tersebut bersifat racun baik bagi tumbuhan, hewan, maupun manusia. Selain itu sampah dan limbah dapat menimbulkan bau yang tidak sedap, menyebabkan eutrofikasi perairan, dapat meningkatkan temperatur perairan yang dapat menimbulkan permasalahan terhadap biota yang terdapat diperairan tersebut.

Wednesday, September 14, 2011

Parameter Penentu Kesuburan, Produktivitas, Kemampuan Serta Kesesuaian Tanah

Kesuburan Tanah

Parameter yang digunakan untuk menentukan kesuburan tanah adalah; jeluk efektif, struktur, konsistensi, internal drainage, daya simpan lengas, kadar hara (N, P, K, S, Ca, dan Mg), KPK, cadangan mineral terlapukan, pH, kadar bahan organik, sifat bahan organik, kejenuhan basa, serta kandungan zat beracun (kejenuhan Al, Mn)

Introduksi Spesies

Introduksi spesies adalah masuknya atau berpindahnya suatu jenis spesies dari habitatnya di suatu tempat ke tempat lainnya baik dilakukan secara sengaja maupun secara tidak sengaja. Introduksi spesies ini bisa berakibat positif maupun negatif terhadap daerah yang baru dimasuki oleh spesies baru tersebut. Spesies-spesies yang dapat berpindah pada suatu tempat ke tempat lainnya pada umumnya memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga spesies ini mampu bertahan bahkan berkembang biak dengan baik pada lingkungannya yang baru. Ada beberapa spesies yang justru perkembangannya menjadi tak terkendali sehingga menjadi hama dan merugikan manuasia.

Introduksi spesies yang tidak disengaja

Spesies yang satu ini kita pastinya sudah mengetahuinya bahkan persebarannya hampir merata dan dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan barunya. Tikus merupakan spesies jenis omnivora yang berasal dari daerah Norwegia sehingga namanya “Rathus Norvegicus”. Spesies tikus ini mengikuti manusia dan terbawa dalam kapal-kapal yang berlayar dari Norwegia ke berbagai penjuru wilayah di dunia. Tikus merupakan salah satu binatang yang paling pesat perkembangannya karena sifat reproduksinya sangat tinggi serta sangat adaptatif terhadap lingkungannya. Karena tikus merupakan jenis hewan omnivora serta perkembangannya tak terkendali yang salah satu penyebabkan rusaknya bahan pangan manusia sejak ribuan tahun yang lalu, sekaligus menjadi salah satu hama yang menjadi musuh manusia di berbagai negara. Di negara Amerika Serikat kerugian ayang diakibatkan oleh tikus ini terhitung mencapai $2,5 milyar/thn.

Monday, September 12, 2011

Jenis-jenis Tanah di Indonesia (bagian 2)

Tanah Lateritik

Tanah Lateritik banyak tersebar di daerah yang beriklim humid dari tropis hingga subtropis. Beberapa ciri umum morfologi lateritik adalah sebagai berikut; (1) solum dangkal dengan kedalaman < 100 cm, (2) susunan horison A, B, dan C, dengan horison B spesifik berwarna merah kuning sampai kuning coklat dan bertekstur paling halus adalah lempung, (3) mengandung konkresi Fe/Mn lapisan kwarsa yang menyebabkan adanya air. Tanah jenis ini tersebar pada dataran rendah dengan ketinggian 100 m dpal, serta memiliki relief datar hingga sedikit bergelombang dengan bahan induk andesit dankKeadaan iklim basah dengan curah hujan antara 2500-3500 mm/thn tanpa bulan kering.

Saturday, September 10, 2011

Jenis-jenis Tanah di Indonesia (bagian 1)

Indonesia berada pada iklim tropis dengan temperatur dan kelembaban yang tinggi serta curah hujan yang tinggi merupakan faktor yang mempercepat proses pelapukan bahan induk, pencucian, pelindian, erosi serta deposisi. Selain itu topografi, aktivitas gunungapi, serta aktivitas manusia juga merupakan faktor yang menyebabkan pedogenesis tanah dapat terhambat. Adapun jenis dan karakteristik tanah yang ada di Indonesia antara lain sebagai berikut.

Tanah Organik

Tanah organik merupakan tanah yang telah terendam air dalam waktu yang lama atau setidaknya selama 1 bulan dan mengandung bahan karbon organik > 12% jika berlempung atau mengandung bahan karbon organik > 18% jika berlempung 60% dan lempung tersebut berimbang dan proposional. Tanah organik dapat digolongkan kedalam Histosol jika lebih dari 50% lapisan atas tanah dalam memiliki ketebalan 40 – 80 cm. Bahan penyusun tanah organik dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu;
  1. Fibrik yang dekomposisinya paling sedikit, sehingga masih banyak mengandung serabut, BJ rendah (< 0,1), kadar air tinggi dan berwarna coklat;
  2. Hemik merupakan peralihan dengan dekomposisi separuhnya, masih banyak mengandung serabut dengan BJ 0,07 – 0,18, dengan kadar air tinggi serta berwarna lebih kelam;
  3. Saprik merupakan dekomposisinya paling lanjut, kurang mengandung serabut, BJ > 0,2 atau lebih, kadar air tidak terlalu tinggi dengan warna hitam dan coklat kelam;

Thursday, August 18, 2011

Permasalahan Perkembangan Daerah Perdesaan Menjadi Perkotaan





Daerah perdesaan dapat didefinisikan sebagai daerah yang memiliki kepadatan penduduk rendah dengan kriteria ekonomi, sosial, dan geografis tertentu. Kriteria ekonomi pedesaan sangat tergantung atau mengandalkan dari pendapatan pertanian. Kriteria sosial, menunjukkan prilaku kehidupan masyarakat yang sangat terkait dengan pertanian dan kepadatan penduduk yang rendah. Kriteria geografis, daerah perdesaan lokasinya relatif jauh dari daerah perkotaan.

Tuesday, August 16, 2011

Transfer Data GPS Garmin 76Csx Menggunakan Program Mapsource


Memproses data dari GPS Garmin 76Csx secara langsung dapat dilakukan secara mudah dan cepat. File yang ada pada GPS pada umumnya dalam bentuk Track (garis/lintasan) dan WayPoint (titik). Untuk dapat mentransfer data dari perangkat GPS ke komputer terlebih dahulu komputer tersebut harus di instal dengan program Map Source yang umumnya didapatkan ketika membeli GPS tersebut. Adapun cara atau langkah-langkah dalam tranfer dan mengolah data yang dihasilkan dari perangkat GPS dengan menggunakan program arcview adalah sebagai berikut.

Sebelum kabel koneksi dihubungkan dari GPS ke komputer terlebih dahulu program Map Source di instal ke komputer, kemudian diaktifkan sehingga pada layar komputer akan seperti pada Gambar 1, setelah itu koneksikan kabel dari GPS ke komputer serta pastikan GPS dalam keadaan aktif (On).